DOMINASI PERTARUNGAN SIMBOLIK IDEOLOGI NADIEM MAKARIM: ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH

Anggi Pratama, Susandi Susandi, Yunita Anas Sriwulandari

Abstract


Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui fitur lingual kosakata aspek deskripsi dan mode wacana kebahasaan dalam bentuk kekerasan simbolik penggunaan bahasa berdasarkan analisis wacana kritis Norman Fairclough yang terdapat dalam ideologi Nadiem Makarim pada Instagram Live Prilly Latuconsina Bareng Mendikbud Ristek - Nadiem Makarim 31 Maret 2022. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan deskriptif-kualitatif. Data yang digunakan berupa kutipan transkripsi teks hasil rekaman video dialogis dengan menggunakan teknik pengumpulan data teknik catat, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik rekam. Penelitian ini menggunakan tiga tahap teknik analisis data antara lain (1) mereduksi data; (2) menyajikan data; (3) penarikan simpulan dan verifikasi data. Penelitian ini menghasilkan: (1) Proses leksikal terjadi pada kata “Mas Menteri”, “Dana Indonesiana” dan “Kurikulum Merdeka”; (2) Pertarungan simbolik ketiga kata tersebut muncul dalam bentuk kekuatan dalam pemberian nama yang diakui secara resmi (pelabelan), monopoli visi, pemaksaan pandangan dan tindakan, dan pengontrol persepsi; (3) Mode wacana kebahasaan ketiga kata tersebut termasuk dalam persuasif agresif-dogmatis dan derajat kekuatan persuasi, kata “mas menteri” muncul sebanyak 36 kali, kata “dana” muncul sebanyak 22 kali yang merepresentasikan tentang dana anggaran abadi bernama “Dana Indonesiana”, kata “kurikulum” muncul sebanyak 10 kali, kata “merdeka” muncul sebanyak 11 kali, kata-kata tersebut telah memunculkan empat pertarungan simbolik secara leksikal yang mengandung makna eksperiensial dan mengandung makna istilah yang berpotensi memiliki makna tunggal bercorak agresif-dogmatis serta memiliki kekuatan derajat persuasi dalam penggunaan kata.


Keywords


Mode Wacana Kebahasaan; Norman Fairclough; Pertarungan Simbolik; Proses Leksikal.

Full Text:

PDF

References


Arifianti, I. (2018). Conventional and Non Conventional implications. PENA, 32, 44–52. https://jurnal.unikal.ac.id/index.php/pena/article/view/936/697

Fairclough, N. (2013). Language and Power Second edition. In Routledge 2 Park Square, Milton Park, Abingdon, Oxon OX14 4RN 711 Third Avenue, New York, NY, 10017, USA (second). Routledge, Taylor & Francis 1989, 2001.

Hasanah, A., & Mardikantoro, H. B. (2017). Konstruksi Realitas Seratus Hari Pertama Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla di Media Online: Analisis Wacana Kritis Model Norman Fairclough Alif. Seloka : Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 3, 233–243. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/seloka

Hasibuan, I. A., & Khairani, A. I. (2021). HEGEMONI BAHASA MILENEALISASI PADA SLOGAN DEMONSTRASI: ANALISIS WACANA KRITIS. KONFIKS JURNAL BAHASA DAN SASTRA INDONESIA, 7(2), 9–16. https://doi.org/10.26618/konfiks.v7i2.4294

Hendrajati, E. (2009). MODE WACANA BAHASA KEKUASAAN. Jurnal Sosial Humaniora, 2(1), 55–65. https://doi.org/10.12962/j24433527.v2i1.665

Jafar, K. (2015). Pada Cerita Wandiudiu. Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana, 22, 154–161. https://ojs.unud.ac.id/index.php/linguistika/article/view/14004

Karnanta, K. Y. (2013). PARADIGMA TEORI ARENA PRODUKSI KULTURAL SASTRA: KAJIAN TERHADAP PEMIKIRAN PIERRE BOURDIEU. Jurnal Poetika, 1(1), 3–15.

Kuntarto, E. (2018). BAHASA DAN KEKUASAAN POLITIK OPOSAN DI INDONESIA: ANALISIS Wacana KRITIS. Jurnal Kiprah, 6(2), 37–47. https://doi.org/10.31629/kiprah.v6i2.860

Mubaligh, A. (2011). RELASI BAHASA DAN IDEOLOGI. LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa Dan Sastra, 5(2), 112–118. https://doi.org/10.18860/ling.v5i2.622

Perdana, D. I. (2016). Kurikulum Dan Pendidikan Di Indonesia Proses Mencari Arah Pendidikan Yang Ideal Di Indonesia atau Hegemoni Kepentingan Penguasa Semata? Jurnal Pemikiran Sosiologi, 2(1), 63. https://doi.org/10.22146/jps.v2i1.23412

Santoso, A. (2019). Panorama Studi Wacana Kritis: Relasi antara Wacana Publik, Ideologi, & Kesadaran Berbahasa Kritis. Universitas Negeri Malang.

Sofyan, N. (2014). Bahasa Sebagai Simbolisasi Mempertahankan Kekuasaan. INTERAKSI: Jurnal Ilmu Komunikasi, 3(1), 75–84. https://doi.org/https://doi.org/10.14710/interaksi.3.1.75-84

Sukriyah, S., Sumarlam, S., & Djatmika, D. (2018). KOHESI LEKSIKAL SINONIMI, ANTONIMI, DAN REPETISI PADA RUBRIK CERITA ANAK, CERITA REMAJA, DAN CERITA DEWASA DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS. Aksara, 30(2), 267. https://doi.org/10.29255/aksara.v30i2.230.267-283

Tambunan, P. (2022). ANALISIS WACAN KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH DALAM TALK SHOW MATA NAJWA “KONTROVERSI MAS MENTERI” [Universitas Diponegoro]. http://eprints.undip.ac.id/83934/1/Jurnal_Patricia.pdf

Wahyuni, S., Supratno, H., & Kamidjan, K. (2019). KEKERASAN SIMBOLIK DALAM NOVEL INDONESIA. RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 12(2), 128. https://doi.org/10.26858/retorika.v12i2.8833

Winarsih, S. (2013). Representasi Bahasa dalam Pertarungan Simbolik dan Kekuasaan. In Jurnal Bahasa Lingua Scientia (Vol. 5, pp. 11–24). http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1238156&val=12545&title=REPRESENTASI BAHASA DALAM PERTARUNGAN SIMBOLIK DAN KEKUASAAN

Zaim, M. (2014). Metode Penelitian Bahasa: Pendekatan Struktural. Metode Penelitian Bahasa: Pendekatan Struktural, 1–123. http://repository.unp.ac.id/id/eprint/1830




DOI: https://doi.org/10.26618/konfiks.v9i2.9128

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2022 JURNAL KONFIKS

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Creative Commons License
Journal Konfiks is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.