Analisis Laju Infiltrasi dan Hubungannya dengan Aliran Permukaan di Kecamatan Panakkukang
DOI:
https://doi.org/10.26618/mdhnj816Abstract
ABSTRAK
Penurunan kapasitas infiltrasi tanah akibat meningkatnya kawasan kedap air di perkotaan berkontribusi terhadap meningkatnya aliran permukaan yang memicu genangan dan banjir. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik laju infiltrasi tanah dan hubungannya dengan aliran permukaan di Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui pengukuran laju infiltrasi dengan double ring infiltrometer pada dua lokasi serta analisis curah hujan rencana menggunakan metode Mononobe berdasarkan data 10 tahun terakhir. Parameter infiltrasi dianalisis dengan model Horton dan dibandingkan dengan intensitas hujan. Hasil menunjukkan Lokasi 1 (Taman Toddopuli) memiliki f0 = 1620,00 mm/jam, fc = 24,00 mm/jam, k = 2,88 dengan laju konstan tercapai pada 1,92 jam. Lokasi 2 (Lapangan AURI Panaikang) memiliki f0= 672,00 mm/jam, fc = 36,00 mm/jam, k = 2,01, dengan laju konstan pada 2,17 jam. Intensitas hujan rencana kala ulang 10 tahun (tc = 0,70 jam) sebesar 81,01 mm/jam. Aliran permukaan mulai terbentuk pada 1,00 jam di Lokasi 1 dan 1,42 jam di Lokasi 2, dengan aliran permukaan 9,01 mm/jam. Temuan ini menegaskan adanya hubungan terbalik antara laju infiltrasi dan aliran permukaan: semakin tinggi laju infiltrasi, maka aliran permukaan semakin rendah, sebaliknya, jika laju infiltrasi menurun, maka aliran permukaan meningkat. Oleh karena itu, diperlukan infrastruktur resapan seperti sumur resapan, biopori, dan taman hujan sebagai strategi konservasi air.
Kata Kunci:
Laju infiltrasi, aliran permukaan, intensitas curah hujan
ABSTRACT
The reduction in soil infiltration capacity due to the expansion of impervious surfaces in urban areas contributes to increased surface runoff, leading to waterlogging and flooding. This study aims to analyze the characteristics of soil infiltration rates and their relationship with surface runoff in Panakkukang District, Makassar City. A quantitative approach was applied through field measurements of infiltration rates using a double ring infiltrometer at two study sites, along with the analysis of design rainfall using the Mononobe method based on 10 years of rainfall data. Infiltration parameters were determined using the Horton model and evaluated by comparing rainfall intensity with infiltration capacity. The results show that Site 1 (Toddopuli Park) recorded f0 = 1620,00 mm/h, fc= 24,00 mm/h, k = 2,88 with constant rate after 1,92 hours. Site 2 (AURI Field Panaikang) recorded f0= 672,00 mm/h, fc = 36,00 mm/h, k = 2,01, with constant rate after 2,17 hours. The 10-year return period rainfall intensity (tc = 0,70 h) was 80,74 mm/h. Runoff began at 1,00 h at Site 1 and 1,42 h at Site 2, producing 9,01 mm/h of runoff. These findings confirm the inverse relationship between infiltration rate and surface runoff: higher infiltration reduces runoff, while lower infiltration increases it. Thus, infiltration-based infrastructures such as recharge wells, biopores, and rain gardens are required as water conservation strategies.
Keywords:
Infiltration rate, overland flow, rainfall intensity
Downloads
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhammad Musawwir, Indriyanti Azis, Marupah, Farida Gaffar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
