Kebutuhan Palsu dalam Masyarakat Konsumtif: Kritik Terhadap llusi Kebahagiaan Iklan Media Sosial
DOI:
https://doi.org/10.26618/chs47k31Abstract
Abstrak. Perkembangan media sosial sebagai bagian dari kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola konsumsi masyarakat modern. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang strategis bagi industri dalam membangun makna tentang kebahagiaan, kesuksesan, dan gaya hidup ideal melalui iklan digital. Iklan yang disajikan secara intens, visual, dan persuasif cenderung mengaitkan kebahagiaan dengan kepemilikan barang serta kemampuan mengikuti tren yang sedang berkembang. Kondisi ini mendorong terbentuknya budaya konsumtif, di mana kebutuhan individu tidak lagi sepenuhnya bersumber dari kebutuhan nyata, melainkan dibentuk oleh pengaruh media dan kepentingan pasar.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana iklan media sosial membentuk kebutuhan palsu dan menciptakan ilusi kebahagiaan dalam masyarakat konsumtif dengan menggunakan perspektif kritis Herbert Marcuse. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi literatur. Data diperoleh melalui penelaahan terhadap berbagai sumber ilmiah, seperti buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan teori kebutuhan palsu, industri budaya, serta kajian masyarakat konsumtif. Analisis dilakukan secara deskriptif-kritis dengan menginterpretasikan dan mensintesis gagasan-gagasan utama dari literatur yang dikaji. Hasil kajian menunjukkan bahwa iklan media sosial berperan penting dalam membentuk kebutuhan palsu dengan cara menanamkan anggapan bahwa kebahagiaan dan keberhasilan hidup dapat dicapai melalui konsumsi produk tertentu. Media sosial, melalui algoritma dan strategi pemasaran digital, secara halus mengarahkan keinginan individu sehingga pilihan konsumsi seolah-olah muncul secara bebas, padahal telah dikonstruksi oleh sistem kapitalisme lanjut. Fenomena ini juga berkontribusi pada terbentuknya manusia satu dimensi, yaitu individu yang cenderung kehilangan daya kritis dan menerima realitas konsumtif tanpa refleksi mendalam.Selain berdampak pada pola konsumsi, ilusi kebahagiaan yang dibangun melalui iklan media sosial turut memengaruhi kondisi psikologis dan sosial masyarakat. Tekanan untuk mengikuti standar gaya hidup tertentu berpotensi menimbulkan rasa tidak puas, kecemasan, serta pergeseran nilai dalam hubungan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan kesadaran kritis dan literasi digital agar individu mampu memahami dan menyikapi iklan media sosial secara lebih reflektif, sehingga tidak sepenuhnya terjebak dalam logika konsumsi yang menyesatkan.
Kata Kunci: Media sosial, kebutuhan palsu, masyarakat konsumtif, iklan digital, Herbert Marcuse.
Downloads
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Dengan diterimanya artikel oleh Tim Editor Equilibrium : Jurnal Pendidikan (p-ISSN: 2339-2401, e-ISSN: 2477-0221) dan adanya keputusan untuk menerbitkan artikel tersebut, maka hak cipta tentang artikel ini akan dialihkan ke Equilibrium Jurnal Pendidikan (p-ISSN: 2339-2401, e-ISSN: 2477-0221). Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar memegang hak cipta mengenai semua artikel yang diterbitkan dalam jurnal ini. Selain itu Equilibrium Jurnal Pendidikan (p-ISSN: 2339-2401, e-ISSN: 2477-0221) memiliki hak untuk memperbanyak dan mendistribusikan artikel dan setiap penulis tidak diperbolehkan untuk menerbitkan artikel yang sama yang dimuat di jurnal ini.
Surat Pernyataan Keaslian Artikel dan Hak Cipta Naskah dapat anda unduh : di sini
Setelah mengisi dengan lengkap surat pernyataan tersebut, silahkan anda kirimkan lewat e-mail ke alamat : jurnalsosiologi@unismuh.ac.id

