Analisis Laju Pertumbuhan Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii yang Ditanam Pada Berbagai Kedalaman

Darmawati Darmawati

Abstract


Kedalaman mempengaruhi tingkat intensitas cahaya yang masuk kedalam perairan, sehingga perlu dilakukan penelitian menganalisis laju pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang ditanam diberbagai kedalaman. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret - Juni 2013 yang bertempat di Desa Laikang Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar dengan posisi 50o35.644’LS dan 119o155.565’BT. Peralatan yang digunakan meliputi alat perlengkapan budidaya sistem longline seperti tali ris dari bahan nilon (polyethylene Ø No. 10, 8, 5, dan  2 mm), dan pelampung bola.  Peralatan yang lain meliputi timbangan elektrik untuk menimbang bobot rumput laut, Dalam penelitian ini digunakan metode penanaman dengan sistem long line. Berat awal bibit dalam satu rumpun 50 gram. Jarak tanam rumput laut yang satu ke yang lain adalah 30 cm.  Perlakuan kedalaman terdiri dari A = 20 cm, B = 50 cm dan C = 100 cm dengan 3 kali ulangan. Pengukuran pertumbuhan rumput laut dilakukan dengan cara menimbang bobot basah rumput laut pada setiap tujuh hari. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan rumput laut K. alvarezii dilakukan analisis ragam (Anova). Rata-rata laju pertumbuhan harian pada kedalaman 50 cm  (4,750%), lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan harian pada kedalaman 20 cm  (4,427%), dan pada kedalaman 100 cm (3,892%). Hasil uji lanjut Tukey  menunjukkan bahwa perlakuan kedalaman 20 cm berbeda nyata dengan perlakuan kedalaman 50 cm, dan kedalaman 100 cm, perlakuan kedalaman 50 cm juga berbeda nyata dengan perlakuan kedalaman 100 cm. Tingginya laju pertumbuhan pada perlakuan kedalaman 50 cm dikarenakan pada kedalaman penanaman tersebut secara nyata mempangaruhi pertumbuhan rumput laut dari aspek pencahayaan (fotosintesis) dan aspek suplai nutrisi. Parameter kualitas air seperti suhu, salinitas, pH dan CO2 masih dalam kondisi yang ideal bagi pertumbuhan rumput laut K alvarezii.

Kata Kunci : Kedalaman, laju Pertumbuhan dan Kappaphycus alvarezii

Depth affect the level of intensity of light coming into the waters, so it is necessary to study to analyze the rate of growth of seaweed Kappaphycus alvarezii planted in different depths. This study was conducted in March-June 2013, which took place in the village of the District Laikang Mangarabombang KabupatenTakalar with 50o35.644'LS position and 119o155.565'BT. Equipment used includes fittings cultivation longline systems such as ris nylon rope (polyethylene Ø No. 10, 8, 5 and 2 mm), and a float ball. Other equipment includes an electric scales for weighting seaweed, In this study used a method of planting with long line system. Initial weight of seeds in one clump 50 grams. Spacing seaweed one to the other is 30 cm. Depth treatment consists of A = 20 cm, 50 cm and B = C = 100 cm with 3 repetitions. Measurement of seaweed growth is done by weighing the wet weight of seaweed in every seven days. To determine the effect of treatment on the growth of seaweed K. alvarezii analysis of variance (ANOVA). The average daily growth rate at a depth of 50 cm (4.750%), higher than the daily growth rate at a depth of 20 cm (4.427%), and at a depth of 100 cm (3.892%). Tukey's test results further show that the treatment depth of 20 cm differ significantly by treatment with a depth of 50 cm, and a depth of 100 cm, 50 cm depth treatment also significantly different from the treatment depth of 100 cm. The high growth rate in the treatment depth of 50 cm due to the depth of planting is expressly mempangaruhi seaweed growth on aspects of lighting (photosynthesis) and aspects of the supply of nutrients. Water quality parameters such as temperature, salinity, pH and CO2 is still in ideal conditions for the growth of seaweed K alvarezii.

Keywords: depth, rate of growth and Kappaphycus alvarezii

Full Text:

PDF

References


Andarias, I. 1997. Prospek Pengembangan Budidaya Rumput Laut Dalam Menyongsong Era Globalisasi Dalam Bidang Budidaya Perairan. Laporan Penelitian. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Ujung Pandang.

Anggadirdja, J.T., Zatnika, A., Purwoto, H., dan Istini, S. 2006. Rumput Laut. Seri Agribisnis. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

Apriadi, D. 2005. Kandungan Logam Berat Hg, Pb dan Cr pada Air, Sedimen dan Kerang Hijau (Perna viridis l.) Di perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Ariyati. R.W., Lachmuddin Sya’rani, Endang Arini. 2007. Analisis Kesesuaian Perairan Pulau Karimunjawa dan Pulau Kumujan Sebagai Lahan Budidaya Rumput Laut Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Jurnal Pasir Laut, Vol.3, No.1, Juli 2007 : 27-45

Atmadja, W.S. 1996. Pengenalan Jenis Alga Merah (Rhodophyta) dalam Pengenalan Jenis-jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi LIPI. Jakarta.

Dai, Z., MSB. Ku and G.E. Edwards. 1993. C4 Photosythesis (The CO2-Concentrating Mechanism and Photorepiration). J. Plant Physiology Vol 103.

Darke BG, Gonzalez-Meler MA and Loy SP. 1997. More Efficient Plants: A Consequence of Rising Atmospheric CO2. Annu Rev Plant Physiol. Plant Mol Bio 40 : 609 – 639

Hayashi, L., de Paula, E. J., and Chow, F. 2007. Growth Rate and Carrageenan Anlyses in Four Strains of Kappaphycus alvarezii (Rhodophyta, Gigartinales) Farmed in the Subtropical Waters of Sao Paulo State, Brazil. App. Phycology. Volume 19, Number 5. P. 393-399. Springer Netherland.

Hurtado, A. Q., A. T. Critchley, A. Trespoey dan G. B. Lhonneur. 2008. Growth and Carrageenan Quality of Kappaphycus striatum Var. Sacol Grown at Different Stocking Densities, Duration of Culture and Depth. Appl Phycol 20 : 551 – 555. DOI 10.1007/s10811-008-9339-Springer Science Business Media B.V.

Indriani, H dan E. Suminarsih. 2003. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Rumput Laut. Penebar Swadaya, Jakarta.

Iksan, K.H. 2005. Kajian Pertumbuhan, Produksi Rumput Laut (Eucheuma cattonii), dan Kandungan Karaginan pada Berbagai Bobot Bibit dan Asal Thallus di Perairan Desa Guraping Goba Maluku Utara. Tesis . Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kapraun, D.F. 1998. Field and Culture Studies on Selected North Carolina Polysiphonia. Botanica Marina 11: 143-153.

Nurdjana, M. L. 2008. Prospek Pemanfaatan Rumput Laut. Seminar Diversivikasi Produk Rumput Laut. Makalah pada Seminar Nasional “Sense of Aquaculture”. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Puja Y., Sudjiharno, T.W Aditya. 2001. Teknologi Budidaya Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii), Pemilihan Lokasi. Balai Budidaya Laut Lampung. P 13 – 18.

Ruswahyuni, Ekowati, Titik Widyorini, Ninik Yudiarti, dan Turini. 1998. Pengaruh Tingkat Intensitas Cahaya dan Pemupukan Hyponex Hijau Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Rumput Laut Jenis Gracilaria sp (Suatu tinjauan Dalam Upaya Peningkatan Potensi Sumberdaya Laut). Documentation. Universitas Diponegoro.

Soegiarto, A., Sulistijo, dan W.S. Atmaja. 1996. Pertumbuhan Alga Laut Eucheuma spinosum pada Berbagai Kedalaman. Oseanologi Indonesia. Jakarta.

Soegiarto, A. W., Sulistijo., dan H. Mubarak. 1998. Rumput laut (Algae) Manfaat. Potensi dan Usaha Budidayanya. Lembaga Oseanologi Nasional. LIPI. Jakarta.

Sulistijo dan W. S. Atmadja. 1996. Perkembangan budidaya Rumput Laut di Indonesia. Puslitbang Oseanografi LIPI. Jakarta.

Sulistijo. 2002. Penelitian Budidaya Rumput Laut (Algae Makro/Seaweed) di Indonesia. Pidato Pengukuhan Ahli Penelitian Utama Bidang Akuakultur, Pusat Penelitian Oseanografi. LIPI.




DOI: https://doi.org/10.26618/octopus.v2i2.534

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Darmawati Darmawati

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Creative Commons License
OCTOPUS: Jurnal Ilmu Perikanan under by Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.